Lebih dari 90% infertilitas
pada pria disebabkan karena jumlah sperma yang rendah, kualitas sperma yang
buruk atau keduanya. Terdapat banyak factor dan penyebab dari infertilitas ini,
yaitu:
Abnormalitas
structural
Beberapa abnormalitas
structural yang merusak atau mem-blok testis, saluran atau struktur reproduksi
lain yang mempengaruhi fertilitas:
·
Cryptorchidism. Cryptorchidism
adalah suatu kondisi yang terlihat pada bayi baru lahir dimana testis gagal untuk
turun dari abdomen ke skrotum.
·
Hypospadias. Hypospadias adalah defek
lahir dimana pembukaan saluran kemih berada dibawah penis. Hal ini dapat menceg
ah sperma mencapai serviks bila tidak diperbaiki dengan operasi
·
Sumbatan saluran
sperma. Beberapa pria terlahir dengan sumbatan atau masalah lain di epididimis
atau duktus ejakulatorius, yang kemudian menyebabkan infertilitas.
Defisiensi Hormon
Hipogonadisme
adalah nama umum untuk defisiensi dari gonadotropin-releasing
hormone (GnRH), hormone primer yang mensinyal proses pelepasan testosterone dan
hormone reproduksilainnya. Level testosterone yang rendah akibat penyebab
lainnya juga menghasilkan gangguan produksi sperma
Kelainan genetik
·
Keainan turunan tertentu dapat menyebabkan infertilitas,
contohnya: Cystic fibrosis dapat menyebabkan hilangnya atau obstruksi vas
deferens.
·
Sindrom Klinefelter ditandai dengan dua
kromosom X dan satu kromosom Y (normalnya satu kromosom X dan satu kromosom Y),
yang mana menyebabkan kadar testosterone rendah dan abnormalitas pada tubulus
seminiferus, meskipun kebanyakan atribut fisik pria yang lainnya normal.
·
Sindrom Kartagener adalah kelainan yang
jarang yang menyebabkan motilitas sperma terganggu.
Risk
Factors
Varicocele
Varicocele adalah suatu pembesaran
abnormal dan terbelitnya vena pada korda spermatika yang terhubung ke testis.
Varicocele ditemukan pada sekitar 15% dari semua pria dan sekitar 40% pada pria
infertile, meskipun belum jelas seberapa besar kelainan ini mempengaruhi
fertilitas atau bagaimana mekanismenya
Usia
Penuaan
dapat mempengaruhi jumlah sperma dan motilitas sperma (kemampuan sperma untuk
berenang cepat dan bergerak dalam garis lurus)
Penyakit
seksual menular
Infeksi
Chlamydia trachomatis atau gonorrhea adalah penyakit seksual
menular yang paling sering berhubungan dengan infertilitas pada pria. Infeksi
dapat menyebabkan jaringan parut dan memblok jalan keluar sperma. Human
papillomaviruses, menyebabkan kutil pada kelamin, juga mengganggu fungsi
sperma.
Faktor
Gaya Hidup
·
Testicular Overheating. Overheating,
seperti pada demam tinggi, sauna, dan such as from high fevers, saunas, dan
berendam air panas, dapat menurunkan jumlah sperma.
·
Substance Abuse. Kokain
atau marijuana dapat menurunkan jumlah dan kualitas sperma. Komponen kimia pada
marijuana dapat mengganggu kemampuan sperma untuk berenang dan juga menghambat
kemampuannya untuk mempenetrasi ovum. Penggunaan steroid anabolic dapat
mengerutkan testis dan menurunkan produksi sperma. Peminum berat juga dapat
mengganggu fertilitas
·
Obesitas. Obesitas
dapat menggaggu kadar hormone dan berdampak buruk pada fertilitas.
·
Bersepeda. Bersepeda jangka lama
dapat mempengaruhi fungsi ereksi. Tekanan dari tempat duduk sepeda terkadang
dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang bertanggung jawab untuk ereksi.
·
Stres emosional. Stress
dapat mengganggu hormone tertentu yang terlibat dalam produksi sperma, tetapi
para dokter belum yakin jika stress memegang peranan penting dalam
infertilitas.
Factor Lingkungan
Pekerjaan atau paparan
jangka panjang pada jenis toksin atau bahan kimia tertentu (seperti herbisida
dan pestisida) dapat mengurangi jumlah sprema baik melalui pengaruh pada fungsi
testis ataupun mengubah system hormone. Bahan kimia mirip estrogen dan perusak
hormone seperti as bisphenol A, phthalates, dan organochlorines merupakan konsen
khusus. Paparan kronik logam berat seperti timbal, cadmium atau arsenik dapat
mempengaruhi kualitas sperma.
Kondisi
Medis
Kondisi medis yang dapat
mempengaruhi fertilitas pada pria termasuk setiap cedera parah atau operasi
besar, diabetes, HIV, penyakit tiroid, sindrom Cushing, serangan jantung, gagal
hati atau ginjal, dan anemia kronis. Beberapa jenis obat dapat mengganggu
produksi sperma.
Infeksi di saluran kemih
atau alat kelamin. Infeksi yang dapat
mempengaruhi fertilitas termasuk prostatitis (peradangan pada kelenjar
prostat), u arsenik orchitis (di testis), Semino-vesculitis (dalam kelenjar
yang memproduksi semen), atau uretritis (dalam uretra), mungkin dengan mengubah
motilitas sperma. Bahkan setelah pengobatan antibiotik sukses, infeksi pada
testis dapat meninggalkan jaringan parut yang menghalangi epididimis.
Kanker dan Pengobatan nya. Pengobatan kanker seperti kemoterapi dan radiasi
dapat merusak kualitas dan kuantitas sperma, menyebabkan infertilitas.
Perlakuan radiasi dekat adalah organ-organ reproduksi, semakin tinggi risiko
infertilitas. Ada juga beberapa bukti bahwa infertilitas pria itu sendiri
merupakan faktor risiko untuk kanker testis.
Sumber: Simon, Havey, MD. 2012. Infertility in Men. Tersedia di http://umm.edu/health/medical/reports/
articles/infertility-in-men diakses pada 23 Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar