Konseling KB bertujuan membantu klien dalam
hal:
a. Menyampaikan
informasi dan pilihan pola reproduksi
b. Memilih
metode KB yang diyakini
c. Menggunakan
metode KB yang dipilih secara aman dan efektif
d. Memulai
dan melanjutkan KB
e. Mempelajari
tujuan, ketidakjelasan informasi tentang metode KB yang tersedia.
Dalam memberikan konseling, khususnya
bagi calon klien KB yang baru hendaknya dapat diterapkan enam langkah yang
sudah dikenal dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan satu tuju tersebut
tidak perlu dilakukan secara berulang-ulang karena konselor harus menyesuaikan
diri dengan kebutuhan klien. Kata kunci SATU TUJU adalah sebagai
berikut:
SA : SApa
dan SAlam kepada klien secara terbuka dan sopan. Berikan perhatian
sepenuhnya kepada mereka dan berbicara di tempatyang nyamanserta terjamin
privasinya. Tanyakan kepada klien apa yang perlu dibantu serta jelaskan
pelayanan apa yang diperoleh.
T : Tanyakan
kepada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien untuk berbicara mengalami
pengalaman Keluarga Berencana. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan oleh klien.
Coba tempatkan diri kita didalam hati klien.
U : Uraian
kepada klien mengenai dan pilihannya dan diberi tahu apa pilihan kontrasepsi,
bantu klien pada jenis kontrasepsi yang diingini.
TU : banTUlah
klien menentukan pilihannya. Bantulah klien berpikir mengenai apa yang paling
sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Doronglah klien untuk menunjukkan
keinginannya dan mengajukan pertanyaan.
J : Jelaskan
secara lengkap bagaiman menggunakan kontrasepsi pilihannya.
U Perlunya
dilakukan kunjungan Ulang. Bicarakan dan buatlah perjanjian kapan klien
akan kembali untuk melakukan pemeriksaaan lanjutan atau permintaan kontrasepsi
jika dibutuhkan
Saifuddin. (2006). Pelayanan
Kesehatan Maternal & Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Dalam bahasa Inggris kita mengenal
istilah GATHER, yakni:
Greet
client. Sambut klien secara terbuka dan ramah, tanamkan keyakinan penuh,
katakana juga bahwa tempat tersebut sangat pribadi. Sehingga hal yang didiskusikan
akan menjadi rahasia.
Ask
klien about themselves. Tanyakan klien tentang permasalahannya, pengalamannya
dengan alat KB dan kesehatan reproduksinya. Tanyakan pula apakah telah ada
metoda yang dipikirkan. Kita menyikapi dan mencoba menempatkan kita pada posisi
klien. Dengan begitu akan memudahkan kita memahami apa sebenarnya permasalahan
klien. Dengan kata lain, klien sebagai subjek skaligus objek.
Tell
client about choices. Tanyakan tentang pilihannya, fokuskan perhatian pada
metode yang dipilih klien. Tetapi ajukan pula metode lain.
Help
client make an informed choices. Bantu membuat pilihan yang tepat, dorong ia
mengemukakan pendapatnya dan ajukan beberapa pertanyaan. Apakah metode KB
tersebut memenuhi criteria medic. Juga apakah partner seksualnya mendukung
keputusannya. Jika mungkin bicarakan dengan keduanya. Tanyakan metode apa yang
klien putuskan untuk digunakan.
Explain
fullyhow to use the choosen method. Jelaskan cara menggunakan metode
pilihannya, dorong ia bicara secara terbuka, jawab pula secara terbuka dan
lengkap. Berilah kondom kepada klien yang berisiko IMS. Selain menggunakan
kondom apakah juga menggunakan metode KB lainnya.
Return
visit should be welcomed. Kunjungan kembali, bicarakan dan sepakati kapan klien
kembali untuk follow-up. Dan selalu mempersilakan klien kembali kapan saja.
Hatcher
,Robert A., M.D, M.P.H, et.al. 1997. The Essentials of Contraceptive
Technology, A handbook for Clinical Staff. The John Hopkins School of Public
Health.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar