Hallo.... selamat datang. newbie old blogger. sorry for my bad english, but I just want to expand my vocabulary :) piss love and respect guys

Rabu, 23 April 2014

Imunisasi Pasif dan Aktif

Imunisasi dibagi menjadi 2, yaitu:
Imunisasi pasif
Imunisasi pasif terjadi bila seseorang menerima antibodi atau produk sel dari orang lain yang telah mendapat imunisasi aktif. Imunitas pasif dapat diperoleh melalui antibodi dari ibu atau dari globulin gama homolog yang dikumpulkan. Imunisasi pasif dibagi lagi menjadi:
a.       Imunisasi pasif alamiah
1.      Imunitas maternal melalui plasenta
Antibodi dalam darah ibu merupakan proteksi pasif kepada janin. IgG dapat berfungsi antitoksik, antivirus dan antibakterial terhadap H. Influenza B atau S. Agalacti B. Ibu yang mendapat mendapat vaksinasi aktif akan memberikan proteksi pasid kepada janin dan bayi.
2.      Imunitas maternal melalui kolostrum
ASI mengandung berbagai komponen sistem imun. Beberapa di antaranya berupa Enhancement Growht Factor untuk bakteri yang diperlukan dalam usus atau faktor yang justru dapat menghambat tumbuhnya kuman tertentu (lisozim, laktoferin, interferon, makrofag, sel T, sel B, granulosit). Antibodi ditemukan dalam ASI dan kadarnya lebih tinggi  dalam kolostrum (ASI pertama segera setelah partus).
b.      Imunisasi pasif buatan
1.      Immune Serum Globulin nonspesifik (Human Normal Immunoglobulin)
Imunisasi pasif tidak diberikan secara rutin, hanya diberikan dalam keadaan tertentu kepada penderita yang terpajan dengan bahan yang berbahaya terhadapnya dan sebagai regimen jangka panjang pada penderita dengan defisiensi antibodi. Jenis imunitas diperoleh segera setelah suntikan, tetapi hanya berlangsung selama masa hidup antibodi in vivo yang sekitar 3 minggu untuk kebanyakan bentuk proteksi oleh Ig. Imunisasi pasif dapat berupa tindakan profilaktik atau terapeutik, tetapi sedikit kurang berhasil sebagai terapi.
preparat dibuat dari plasma atau serum yang dikumpulkan dari donor sehat atau plasenta tanpa memperhatikan sudah atau belum divaksinasi/dalam atau tidak dalam masa konvalesen suatu penyakit. Preparat yang diperoleh harus bebas dari virus hepatitis dan HIV atau AIDS, kadar antibodi sekitar 25 kali (biasanya mengandung 16,5 g/dl globulin, terutama IgG), stabil untuk beberapa tahun dan dapat mencapai puncaknya dalam darah sekitar 2 hari setelah pemberian IM.
2.      Immune Serum Globulin spesifik
Plasma atau serum yang diperoleh dari donor yang dipilih sesudah imunisasi atau booster atau konvalesen dari suatu penyakit, disebut sesuai dengan jenisnya misalnya TIG, HBIG, VZIG dan RIG. Preparat dapat pula diperoleh dalam jumlah besar dari hasil plasmaferesis.
a.       Hepatitis B Immune Globulin
HBIG yang diperoleh dari pool plasma manusia yang menunjukkan titer tinggi antibodi HbsAg. HBIG juga dapat diberikan pada masa perinatal kepada anak yang dilahirkan oleh ibu dengan infeksi virus hepatitis B, para tenaga medis yang tertusuk jarum terinfeksi atau pada mereka setelah kontak dengan seseorang hepatitis B yang HbsAg positif.
b.      ISG Hepatitis A
Diberikan sebagai proteksi sebelum dan sesudah pajanan. Juga diberikan untuk mencegah hepatitis A pada mereka yang akan mengunjungi negara dengan prevalensi hepatitis A tinggi.
c.       ISG Campak
ISG dapat diberikan sebelum vaksinasi dengan virus campak yang dilemahkan kepada anak-anal yang imunodefisien.
d.      Human Rabies Immune Globulin
HRIG yang diperoleh dari serum manusia yang hiperimun terhadap rabies (biasanya dokter hewan atau mahasiswa calon dokter hewan). HRIG digunakan untuk mengobati penderita terpajan dengan aning gila. HRIG juga dapat diberikan bersamaan dengan imunisasi aktif oleh karena antibodi dibentuk lambat. Karena tidak tersedianya serum asal manusia, kadang diberikan serum asal kuda.
e.       Human Varicella-Zoster Immune Globulin
HVIG dipilih oleh karena mengandung antibodi dengan titer tinggi terhadap virus varisela-zoster. Produk ini digunakan sebagai profilaksis pada anak imunodefisiensi untuk mencegah terjangkit varisela, tetapi tidak menguntungkan untuk digunakan pada penderita dengan varisela aktif atau herpes zoster.
f.       Antisera terhadap virus Sitomegalo
Antisera terhadap virus Sitomegalo diberikan secara rutin kepada mereka yang mendapat transplan sumsum tulang untuk mengurangi reaktivasi virus bila diberikan obat imunosupresif dalam usaha mengurangi kemungkinan penolakan tandur
g.      Antibodi Rhogam
Antibodi Rhogam terhadap antigen RhD, diberikan dalam usaha mencegah imunisasi oleh eritrosit fetal yang RH+. Rho )D)-Immune Globulin (RhoGAM) adalah preparat asal manusia, diberikan kepada wanita Resus negatif dalam 72 jam sesudah melahirkan, keguguran atau aborsi dengan bayi/janin resus positif. Maksudnya ialah mencegah sensitisasi ibu terhadap kemungkinan sel darah merah janin yang Resus-positif. Juga diberikan selama trimester terakhir (16 minggu) kepada prima gravida Resus-negatif.
h.      Tetanus Immune Globulin
TIG adalah antitoksin yang diberikan sebagai proteksi pasif stelah menderita luka. Biasanya diberikan IM dengan toksoid tetapi pada lengan sebaliknya.
i.        Vaccinia Immune Globulin
VIG yang diberikan kepada penderita dengan eksim atau imunokompromais yang terpajan dengan vaksinia dan pada anggota tentara.

Imunisasi Aktif
Untuk mendapatkan proteksi dapat diberikan vaksin hidup/ dilemahkan atau yang dimatikan. Vaksin yang baik harus mudah diperoleh, murah, stabil dalam cuaca ekstrim dan nonpatogenik. Efeknya harus tahan lama dan mudah direaktivasi dengan booster antigen. Baik sel B maupun sel T diaktifkan oleh imunisasi.
Keuntungan dari pemberian vakin hidup/ dilemahkan ialah terjadinya replikasi mikroba sehingga menimbulkan pajanan dengan dosis lebih besar dan respon imun ditempat infeksi alamiah. Vaksin yang dilemahkan diproduksi dengan mengubah kondisi biakan mikroorganisme dan dapat merupakan pembawa gen dari mikroorganisme lain yang sulit untuk dilemahkan.
BCG merupakan pembawa yang baik untuk antigen yang memerlukan imunitas sel CD4 dan Salmonella sehingga dapat memberikan imunitas melalui pemberian oral. Imunisasi intranasal telah mendapat popularitas. Risiko vaksin yang dilemahkan ialah oleh karena dapat menjadi virulen kembali dan merupakan hal yang berbahaya untuk subjek immunokompromais.
Respon primer dan sekunder
Kontak pertama dengan antigen eksogen menimbulkan respon humoral primer yang ditandai dengan sel plasma yang memproduksi antibodi dan sel B memori. Respon primer ditandai dengan log phase yang diperlukan sel naif untuk menjalani seleksi klon, ekspansi klon dan diferensiasi menjadi sel memori dan sel plasma. Kemampuan untuk memberikan respon humoral sekunder tergantung dari adanya sel B memori dan sel T memori. Aktivasi kedua sel memori menimbulkan respons antibodi sekunder yang dapat dibedakan dari respon primer.
Perbedaan respon imun di berbagai bagian tubuh.
Ada perbedaan kadar antibodi dalam intra dan ekstra-vaskuler. sIgA diproduksi setempat di lamina propria di bawah membran mukosa saluran napas dan cerna yang sering merupakan tempat kuman masuk. sIgA merupakan Ig utama dalam sekresi hidung, bronkus, intestinal, saluran kemih, saliva, kolostrum dan empedu. Pemberian vaksin polio oral (sabin) memacu produksi antipolio (sIgA) dan ditemukan di dalam sekresi nasal dan duodenum, sedang pemberian vaksin mati parenteral (Salk) tidak. Jelas bahwa sIgA memberikan keuntungan dan dapat mencegah virus di tempat virus masuk tubuh. Sintesis antibodi sekretori lokal terbatas pada lokasi-lokasi anatomis tertentu yang dirangsang langsung melalui kontak dengan antigen.
IgG dan IgM dapat ditemukan dalam sekresi setempat. Hal ini berarti bahwa Ig serum dapat pula berperan pada imunitas ekstravaskuler. IgG dan IgM telah ditemukan pula dalam eksudat. Antibodi dalam cairan serebrospinal dibentuk di jaringan susunan saraf pusat oleh rangsangan infeksi. Mekanisme yang menimbulkan perbedaan-perbedaan kadar Ig du berbagai tempat di tubuh belum dapat diterangkan. IgG4 merupakan 3,5% dari IgG dalam plasmatetapi merupakan 15% dari IgG kolostrum.

Klasifikasi vaksin
Vaksin dapat dibagi menjadi vaksin hidup dan vaksin mati. Vaksin hidup dibuat dalam pejamu, dapat menimbulkan penyakit ringan, dan menimbulkan respons imun seperti yang terjadi pada infeksi aamiah. Vaksin mati merupakan bahan (seluruh sel atau komponen spesifik) asal patogen seperti toksoid yang diinaktifkan tetapi tetap imunogen.


Hidup- daitenuasikan
Mati-diinaktifkan
Patogen
Komponen
Bakteri
Virus
Rekayasa
Seluruh agen
toksoid
Subunit dimurnikan
Rekayasa subunit
Rekombinan
BCG
Adeno campak Mumps Polio Rubella Yellow fever
Influenzae (intranasa) Kolera Virus Rota tifoid (Ty21a-oral)
Antraks kolera USP (parenteral) Kolera WC/rBs (oral) Hepatits A
Hepatitis B (asal plasma) influenza (seluruh virus) Pes
Polio (IPV)
Rabies
Tifoid (parenteral)
Difteri
Tetanus
Pertusis (aselular)
Hib (polisakrida)
Kolera WC/rBs (oral)
Influenza (vaksin slit)
Meningokok
(polisakarida)
Pneumokok
(polisakarida)
Tifoid VI
(polisakarida)
Hib konjugat
Peneumokok konjugat
Meningokok konjugat
Hepatitis B (antigen permukaan) penyakit Lyme (OspA)

Ciri-ciri umum vaksin hidup dan mati
Ciri
Vaksin hidup
Vaksin mati
Respon imun
Humoral dan selular
Biasanya humoral
Dosis
Satu kali biasnya cukup
Diperlukan beberapa dosis
Ajuvan
Tidak perlu
Biasnya diperlukan
Rute pemberian
Sk, oral, intranasal
SK atau IM
Lama imunitas
Potensial seumur hidup
Biasanya diperlukan dosis booster
Transmisi dari satu ke lain orang
Mungkin
Tidak mungkin
Inaktivasi oleh antibodi yang didapat
Dapat terjadi
Tidak terjadi
Penggunaan pada penjamu imunokompromais
Dapat menimbulkan penyakit
Tidak dapat menimbulkan penyakit
Penggunaan pada kehamilan
Teoritis kerusakan janin dapat terjadi
Teoritis kerusakan janin tidak terjadi
Penyimpanan
Perlu khusus untuk mempertahankan vaksin hidup
Perlu khusus untuk mempertahankan stailitas sifat kimiawi dan fisis
Pemberian Simultan di beberapa tempat
Dapat dilakukan
Dapat  dilakukan
Interval antara pemeberian vaksin yang sama secara berurutan
Diperlukan interval minimum
Diperlukan interval minimum
Interval antara pemberian vaksin yang sama secara berurutan
Diperlukan interval minimum
Tidak diperlukan interval minimum


Sumber: Baratawidjaja, Karnen Garna, Iris Rengganis. 2012. Imunologi Dasar, Edisi 10. Jakarta: Badan Penerbit FKUI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar